Businesses can do much more for the environment than merely buying
green products or installing solar heaters. Although buying and using these
products is very useful and should be part of everyones action list,
organisations have an opportunity to make a bigger impact. Most organisations
today exist by running processes which are very paper intensive. Here are a
number of ways that processes can be changed to reduce the paperwork flowing
on, out and through the business. By incorporating these processes, businesses
can cut costs, improve productivity, improve client relations, improve employee
morale, and meet corporate compliance requirements, at the same time as making
a real impact on their carbon footprint. Think process, not technology. By
itself, no technology on earth will reduce paper, hence we need to look at
those processes in our organisations which are paper intensive. By following a
single process from start to finish, we can identify where documents are
required, and whether that step in the process could be improved by using
technology.
Permasalahan lingkungan hidup
merupakan salah satu subjek dan tidak bisa berdiri sendiri, namun berkaitan
dengan persoalan-persoalan lain seperti kemiskinan, good corporate governance,
ekonomi, dan sosial. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan kontribusi dari
berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun pelaku bisnis.
Dalam dunia bisnis, mulai dari
para pemilik dan eksekutif puncak perusahaan hingga karyawan pabriknya, muncul
fenomena baru. Disetiap diskusi atau obrolan antarpelaku bisnis, selalu ada
kata ‘green’ dalam diskusi mereka. Biasanya, kata ‘green’ tersebut dikaitkan
dengan keseluruhan proses bisnis, mulai dari pasokan bahan baku, proses
produksi, proses akhir, sampai distribusinya ke konsumen.
Sebagai entitas bisnis, perusahaan
memang merupakan penyumbang terbesar terhadap penurunan daya dukung bumi,
pencemaran lingkungan, polusi udara dan air, serta dampak negatif lainnya.
Terlebih lagi, bagi sejumlah perusahaan yang bergerak di industri yang memang
berpotensi merusak lingkungan seperti perusahaan pertambangan, kimia,
perkayuan, otomotif, dan lainnya.
Akhir-akhir ini, banyak perusahaan
mengklaim dirinya sebagai perusahaan hijau (green company). Kepada para
konsumen dan masyarakat luas, mereka berusaha menyakinkan bahwa mereka peduli
terhadap kelestarian lingkungan, terutama melalui program Corporate Social
Responsibility-nya.
Proses bisnis ramah lingkungan merupakan
proses bisnis dengan pengimplementasian strategi pemasaran berwawasan
lingkungan, yakni selama proses produksi, penggunaan bahan daur ulang sebagai
bahan baku produksi dan kemasan yang terbuat dari bahan ramah lingkungan, serta
melakukan aktivitas sosial yang berorientasi pada kelestarian lingkungan.
Proses bisnis yang ramah
lingkungan dapat diwujudkan, dengan metode-metode sebagai berikut:
a.
Cleaner Production (Produksi Bersih)
Produksi bersih fokus
kepada:
-
Penghematan dan peningkatan produktivitas
-
Penurunan jumlah sampah, limbah, dan emisi
-
Penurunan eksploitasi sumber daya alam
Upaya produksi bersih:
-
Efisiensi penggunaan bahan baku
-
Penggunaan kemasan yang ramah lingkungan
-
Efisiensi air dan energi
-
Upaya pengelolaan limbah di dalam perusahaan
b.
Eco Office (Kantor Ramah Lingkungan)
Beberapa kegiatan yang
dapat dilaksanakan agar tercipta kantor ramah lingkungan:
-
Mengimplementasikan desain gedung green building
-
Melakukan penghematan kertas
-
Menggunakan alat elektronik yang hemat listrik
dan air
-
Memasang dan menggunakan toilet dengan aliran
kecil
-
Mendukung program ekolabel dan green procurement
dalam pengadaan perlengkapan dan peralatan kantor
-
Memilah sampah dan mendaur ulang kertas bekas
pakai
-
Penghematan konsumsi energi di gedung atau
perkantoran
-
Pemberian insentif transportasi pegawai dan
telekomunikasi pegawai
c.
Konservasi Energi dan Sumber Daya Alam
Beberapa upaya
konservasi energi dan SDA, antara lain:
-
Melakukan penghematan dalam menggunakan energi
dan bahan bakar sehingga dapat mengurangi timbulnya efek rumah kaca
-
Mengganti bahan baku tidak ramah lingkungan
menjadi bahan baku yang ramah lingkungan
-
Melakukan upaya dan aktivitas yang terkait
dengan keanekaragaman hayati
d.
Pegelolaan Sampah Melalui 3R (Reduce, Re-use,
Recycle)
Kegiatan pengelolaan
sampah melalui 3R yang dapat dilaksanakan adalah sebagai berikut:
-
Melaksanakan community based waste management
-
Menyusun program pengelolaan sampah
-
Melakukan pengembangan produk masyarakat
menggunakan konsep 3R
-
Sistem daur ulang seperti sistem manajemen
limbah
e.
Energi Terbarukan (Renewable Energy)
Kegiatan yang dapat
dilaksanakan antara lain:
-
Menggunakan sumber energi terbarukan dalam
proses produksi, seperti Micro Hydro, Solar Cell, Biogas, dan etanol
-
Menyediakan sarana energi terbarukan bagi
masyarakat
-
Melakukan konservasi limbah biologi menjadi
sumber energi terbarukan
-
Melaukan upaya pengembangan energi alternatif
bersama masyarakat
f.
Pendidikan Lingkungan Hidup
Kegiatan yang dapat
dikembangkan antara lain:
-
Menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan
pelatihan lingkungan hidup bagi karyawan
-
Mendukung kegiatan green office
Membangun proses bisnis hijau
memang harus sering digencarkan. Sebab, faktanya, perubahan iklim menjadi kian negatif.
Daya dukung bumi yang melemah, sementara populasi terus membengkak, serta
sumber daya alam yang terus berkurang karena terus-menerus di eksploitasi. Sekecil
dan sesederhana apapun inisiatif pelaku bisnis untuk melaksanakan proses bisnis
yang ramah lingkungan, patut diapresiasi dan didukung.
References:
-
Wibowo, Setyo Ferry, 2011, Karakteristik
Konsumen Berwawasan Lingkungan dan Hubungannya Dengan Keputusan Membeli Produk
Ramah Lingkungan
-
Asuquo, Akabom Ita Dr, 2012, Enviromental
Friendly Business Process, American International Journal of Contemporary
Research
-
Hatta, Gusti Muhammad dkk, 2011, Pedoman CSR
Bidang Lingkungan, Kementrian Lingkungan Hidup
-
Djatmiko, Harmanto Edy, 2012, Meniscayakan
Bisnis Hijau
http://penabulu.org/2012/07/meniscayakan-bisnis-hijau/